Puasa adalah kegiatan menunda makan dan
minum, untuk membiasakan tubuh menunda keinginan. Puasa sebagian (partial
fasting) biasanya dilakukan tanpa makan, tetapi tetap minum. Adapula yang tidak
makan dan tidak minum, tetapi diselingi dengan makan dan minum misalnya pada
pagi dan sore hari. Puasa penuh (full fasting) biasanya dilakukan tanpa makan
dan tanpa minum, maksimal selama 3 hari dikarenakan terbatasnya kekuatan tubuh
manusia. Puasa yang dilakukan Yesus selama empat puluh hari kemungkinan besar
adalah puasa sebagian. Karena dikatakan di dalam
Mat.
4:2 Dan setelah berpuasa empat puluh hari
dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus.
Tidak dikatakan disana, “maka lapar dan hauslah Yesus”.
Perkecualian dari hal ini adalah Musa saat berpuasa penuh
selama empat puluh hari, dikarenakan adanya kuasa supranatural dari Tuhan saat
ia berbicara “berhadap-hadapan muka” dengan Tuhan. Ul. 9:9 dan Kel. 33:11
1. Menguatkan iman.
Pada
saat murid-murid Yesus tidak bisa mengusir setan, Tuhan berkata bahwa itu
terjadi karena mereka kurang percaya. Kemudian Yesus mengaitkannya dengan “doa
dan puasa”. Jadi saya menarik kesimpulan bahwa ada hubungan antara puasa dengan
iman. Mat. 17:20 Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu
kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu
mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini:
Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada
yang mustahil bagimu. Mat. 17:21 (Jenis ini tidak dapat
diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa.)”
2.
Memberi kekuatan untuk melawan godaan, kebiasaan buruk, kecanduan, dan roh
jahat jenis tertentu.
Mat.
17:21 (Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan
berpuasa.)”
Orang yang mempunyai kebiasaan buruk atau kecanduan yang sudah berlangsung bertahun-tahun, sebaiknya mematahkan kebiasaan buruknya melalui puasa. Jangan berharap kebiasaan bertahun-tahun bisa dilepaskan hanya dalam satu hari.
Orang yang mempunyai kebiasaan buruk atau kecanduan yang sudah berlangsung bertahun-tahun, sebaiknya mematahkan kebiasaan buruknya melalui puasa. Jangan berharap kebiasaan bertahun-tahun bisa dilepaskan hanya dalam satu hari.
3. Membuat kita lebih peka
mendengar suara Tuhan.
Dalam
kisah rasul disebutkan bahwa murid Tuhan mendengar suara Roh Kudus pada saat
mereka berpuasa. Kis. 13:2 Pada suatu hari ketika mereka
beribadah kepada Tuhan dan berpuasa, berkatalah Roh Kudus: “Khususkanlah
Barnabas dan Saulus bagi-Ku untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka.”
4.
Membentuk kebiasaan baik
Puasa
membentuk kebiasaan untuk membaca firman dan berdoa lebih banyak setiap hari. Puasa
juga membiasakan diri kita untuk merespon situasi dengan lebih lambat.
Kalau biasanya kita cepat marah, maka dengan perut yang lapar maka tubuh menyesuaikan diri dengan bergerak lebih lambat, dan berkata-kata lebih jarang pula. Dengan begitu, kita tidak langsung merespon setiap stimulasi, tetapi menundanya, kemudian meresponnya sesuai dengan kehendak Allah. Kalau kita biasanya memakan apa saja yang ada di hadapan kita, sebanyak-banyaknya, maka dengan berpuasa kita bisa membiasakan diri kita untuk puas dengan makanan yang secukupnya. Kalau kita biasanya (maaf) suka memperhatikan perempuan lain, maka sekarang kita bisa membiasakan diri untuk puas dengan satu isteri yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.
Kalau biasanya kita cepat marah, maka dengan perut yang lapar maka tubuh menyesuaikan diri dengan bergerak lebih lambat, dan berkata-kata lebih jarang pula. Dengan begitu, kita tidak langsung merespon setiap stimulasi, tetapi menundanya, kemudian meresponnya sesuai dengan kehendak Allah. Kalau kita biasanya memakan apa saja yang ada di hadapan kita, sebanyak-banyaknya, maka dengan berpuasa kita bisa membiasakan diri kita untuk puas dengan makanan yang secukupnya. Kalau kita biasanya (maaf) suka memperhatikan perempuan lain, maka sekarang kita bisa membiasakan diri untuk puas dengan satu isteri yang sudah diberikan Tuhan kepada kita.
Para ahli di dunia sekuler
mengatakan bahwa “kebiasaan” terbentuk setelah 21 hari, ada pula yang
mengatakan 30 hari. Banyak tokoh di Alkitab berpuasa selama 40 hari, jadi 40
hari bisa dipakai sebagai patokan untuk membentuk kebiasaan baru. Sebaiknya
setiap orang mendengarkan suara Roh Kudus dan melihat tujuan puasanya untuk
menentukan lama berpuasanya, apakah 3 hari, 1 bulan, atau 40 hari. Musa
berpuasa 40 hari, Ezra berpuasa, Hana berpuasa, Tuhan Yesus memulai
pelayanannya dengan berpuasa empat puluh hari lamanya. Tidakkah Anda dan saya
perlu melakukannya?
1Tim. 4:8
Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala
hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan
datang.
Alkitab tidak memerintahkan
orang-orang Kristen untuk berpuasa. Puasa bukanlah sesuatu yang dituntut atau
diminta Allah dari orang Kristen. Pada
saat bersamaan, Alkitab memperkenalkan puasa itu sebagai sesuatu yang baik,
berguna dan perlu dilakukan. Kitab Kisah Para Rasul mencatat tentang kisah
orang-percaya yang berpuasa sebelum mereka mengambil keputusan-keputusan
penting (Kisah Para Rasul 13:4; 14:23).
Doa dan puasa sering dikait-kaitkan
(Lukas 2:37; 5:33). Terlalu sering fokus dari puasa itu terkait aktivitas tidak
makan. Seharusnya, tujuan dari puasa itu melepaskan mata kita dari hal-hal
duniawi dan berpusat kepada Allah. Puasa
itu upaya menyatakan kepada Allah, dan kepada diri sendiri, bahwa Saudara
serius dalam menjalin hubungan dengan Allah.
Puasa menolong Saudara dalam memperoleh perspektif baru dan memperbaharui ketergantungan kepada Allah. Sekalipun di dalam Alkitab puasa selalu berhubungan dengan aktivitas tidak makan, ada cara-cara lain untuk berpuasa. Apa pun yang dapat Saudara tinggalkan untuk sementara demi memusatkan perhatian pada Allah dengan cara yang lebih baik sudah dapat dianggap sebagai puasa (1 Korintus 7:1-5).
Puasa menolong Saudara dalam memperoleh perspektif baru dan memperbaharui ketergantungan kepada Allah. Sekalipun di dalam Alkitab puasa selalu berhubungan dengan aktivitas tidak makan, ada cara-cara lain untuk berpuasa. Apa pun yang dapat Saudara tinggalkan untuk sementara demi memusatkan perhatian pada Allah dengan cara yang lebih baik sudah dapat dianggap sebagai puasa (1 Korintus 7:1-5).
Puasa perlu dibatasi waktunya,
khususnya puasa yang terkait makanan. Tidak makan dalam jangka waktu panjang
dapat merusak tubuh. Puasa bukan untuk menghukum tubuh Saudara, tapi supaya
bisa memusatkan perhatian pada Allah. Puasa
tidak boleh dianggap sebagai salah satu “metode diet.” Jangan berpuasa untuk
menghilangkan berat badan, tapi untuk memperoleh persekutuan yang lebih dalam
dengan Allah. Benar, siapa
saja bisa berpuasa. Ada orang-orang yang tidak bisa puasa makan (penderita
diabetes misalnya), tapi setiap orang dapat, untuk sementara, meninggalkan
sesuatu demi memfokuskan diri kepada Allah. Dengan mengalihkan mata dari hal-hal dunia ini, kita
dapat memusatkan diri pada Kristus dengan lebih baik. Puasa bukanlah cara
membuat Allah melakukan apa yang kita inginkan.
Puasa mengubah kita, bukan Allah. Puasa itu bukanlah cara untuk
terlihat lebih rohani dibanding orang lain. Puasa harus dilakukan dalam
kerendahan hati dan penuh sukacita. Matius
6:16-18 mengatakan, "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu
seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa
mereka sedang berpuasa. Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila
engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat
oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada
di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan
membalasnya kepadamu."









